Rabu, 06 April 2016

Cerita Senja di Pantai Bama


Perjalanan dari Baluran yang sedikit kesorean kalo aku bilang. Gegara lama berto-foto di gardu pandang dan Savana Bekol, jam 5 sore kami baru sampai di Pantai Bama. 20-30 menit perjalanan dari Savana Bekol menuju ke pantai Bama dengan menggunakan motor. Sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya, hanya 2 Km dari savana. Tapi karena kondisi jalannya yang berbatu, makanya harus jalan pelan-pelan kalo ga mau motornya oleng. Dika, Aryo, Rifqi, dan adikku sudah sampai duluan. Sedangkan aku dan Galuh sedikit terlambat sampainya gegara berhenti untuk berfoto di tengah jalannya. Dan berujung seruan “Wuoo!!” dari adekku ketika kami datang terlambat. Hehehe.
 Tak mau membuang waktu, kami memasang hammock yang kami bawa. Tiga buah hammock terpasang gagah di bawah pepohonan di sisi kiri pinggir Pantai Bama. Selesai memasang hammock Galuh yang gede dan lumayan ribet bentuknya, aku segera mengeluarkan trangia dan logistik bawaan kami. Aku memasak air untuk menyeduh kopi, etapi tunggu. Kayaknya ada yang kurang. Ya, gula! Damn, lupa beli gula waktu belanja logistik tadi.
“Mbak, kopi paitnya segelas mbak.” Rifqi meledekku sambil tertawa gegara aku beli kopi tapi lupa beli gulanya. Hahahaa.. Pinter!!
“Aku teh pait wae, Mbak. Hahahaa..” Galuh menimpali mengejek pula sambil mengeluarkan logistik dari dalam tasnya.
Wes, pait gapapa. Tapi yang penting itu sunsetnya bakalan manis.” Ucap Aryo sambil menunjuk ke arah langit.
“Apalagi ada dekbebb.. Pasti jadi manis banget.” Eaaaakkkk!!! Dika dan Aryo yang sedari awal menggoda adikku, makin jail saja bermodus ria terhadap adekku.
Masing-masing terlihat menikmati sore itu. Dika dan Aryo asik motret-motret pantai, Rifki masih nyantai nangkring di hammock, adikkupun lebih memilih mematung di pinggir pantai menikmati suara ombak. Sedangkan aku dibantu Galuh memasak mie goreng untuk sedikit mengganjal perut kami. Rasa lapar yang melanda sedari tadi di Bekol, membuat mie goreng yang kubuat langsung laris manis tak lama setelah matang. Heii... kalian laper apa doyan? Hahaha.
Beralaskan matras aluminium foil, 5 gelas warna-warni kopi dan teh pait, senesting mie goreng yang muter bergantian, dan beberapa cemilan, kami benar-benar enjoy menikmati moment sore itu di sana. Celotehan dan candaan jayus mewarnai obrolan kami. Terlebih ada adikku yang sedari awal menjadi sasaran modus Dika dan Aryo. Hahaha.. (Sabar yo dek). Rasanya makin asik dan pecah suasananya.
“Dah, Yok, terbangin cawatnyaah (drone), keburu gelap ntar.” kata Dika pada Aryo untuk segera mengeluarkan dan menerbangkan kamera drone yang dibawanya.
“Aman sih ya ini? Aku lagi ngamatin arah anginnya.” Aryo memastikan keadaan angin pantainya seraya menyiapkan drone-nya. “Aman. Gih buruan.” Sepertinya Dika sudah tak sabar narsis melepas pecawatnya itu.
Sore itu suasana sudah tak seramai ketika kami datang. Mendekati senja, masih sisa beberapa pengunjung saja disana. Setelah semua dirasa oke, Aryo menerbangkan kamera drone-nya. Dengan gaya dan tingkahnya yang aneh, dia mengendalikan drone dengan remote control di tangannya. Kamera DJI Phantom 3 itu terbang tinggi menjauh dari atas kami menangkap gambar dan video landscape Pantai Bama. Sesekali mengelilingi garis pantai dan berakhir mendekat kembali ke arah kami. Kami hanya melihat drone itu dari matras tempat kami duduk sambil melambai-lambaikan tangan kek orang ndeso yang baru lihat kamera. Hahhaa.. Wagu byanget pokokke!! Sampai akhirnya otak iseng Dika dan Aryo muncul. Dengan bergantian mereka menerbangkan drone-nya itu. Eits, bukan menerbangkan dengan remote controlnya tapi itu drone mereka bawa sambil lari-lari berputar mengelilingi tempat kami duduk. Kami semua dibuat terpingkal-pingkal dengan tingkah dan ekspresi muka Aryo saat lari-larian itu. (Koe bar kesambet opo, Yok? Hahahaa ). Sumpah, kocak abis kelakuan mereka. Macam anak kecil yang lari-larian sambil maenin pesawat-pesawatan. Hahahaa.
Senja makin menurun ke peraduannya, Rifqi beranjak dari duduknya lalu mengeluarkan tripod dan menyiapkan kameranya. Siap membidik senja dari mata lensanya. Dan rasanya hampir semua standby dengan kameranya masing-masing. Bersiap mengabadikan moment senja yang jingga merekah dengan jepretannya. Tak terkecuali aku. Tapi keinginan untuk beranjak dari matras rasanya berat, aku masih puas menikmati senja Pantai Bama dari tempatku duduk sambil melihat tingkah teman-temanku lain yang sedang berfot-foto ria. Mengamati Rifqi yang akhirnya jadi fotografer motret Aryo, Dika, Galuh dan juga adekku secara bergantian di pinggir pantai. Sayang juga pikirku kalo aku tak memanfaatkan moment “pemotretan” ini. Akhirnya akupun bergabung dengan mereka, dan mengantri “jatah” difoto sama Rifqi. Sekali dua kali jepretan kurasa cukup sebagai “syarat” narsis disana. Biar ga dibilang  No pict hoax. Hahhaa. Ngok!
Ini adalah kedua kalinya aku mengunjungi dan menikmati sunset di pantai Bama. Masih belum lama sih memang. Pertama kalinya aku ke Bama bulan November lalu. Ya, baru sebulan lalu aku dari sana. Tapi yang sebelumnya aku hanya berdua dengan Andri, temanku dari Banyuwangi. Sedangkan kali ini aku berenam dengan adik juga teman-temanku. Beda orang, beda suasana, beda pula cerita walaupun dengan senja yang sama. Tapi tetap satu hal yang sama, moment menyenangkan dan kebersamaannyalah yang tak akan penah dilupa.
Bama Beach, Banyuwangi

27 Desember 2015

Jumat, 25 Maret 2016

Dipipisin Supir Jukung? Oh, No! Cuma Terjadi di Lampung!!

Setelah hampir 4 jam mengelilingi dan menikmati suasana di Pulau Kiluan serta bermandikan matahari di pasir pantainya, tepat jam 1 siang Pak Helmi kembali datang menjemput kami dengan jukungnya. Pak Helmi adalah supir jukung yang kami sewa selama di Kiluan untuk melihat lumba-lumba. Seperti janjinya, Pak Helmi akan mengantar kami ke pulau yang ada lagunanya. Mendengar kata "laguna" apa yang kalian pikirkan? Pasti suatu pemandangan yang indah bukan? Walaupun badan mulai gosong dan pliket karena kelamaan gegoleran berjemur di pasir pantai Pulau Kiluan, saya kembali bersemangat ketika Pak Helmi datang. Bukan karena bosan di Pulau Kiluan, tapi terlalu penasaran dengan laguna yang dimaksud oleh Pak Helmi. Sebelumnya, teman saya yang fotografer majalah travel Jakarta juga merekomendasikan kepada saya untuk mengunjungi laguna disana. Penasaran? Pasti.

Kamis, 17 Maret 2016

Misteri Gerobak Angkringan di Jogja T-Shirt

 “Aiiiihhh... Syanteknyaaaa..” Kataku dalam hati begitu memasuki pintu di salah satu ruangan di showroom Jogja T-Shirt. Bagi cowok, mungkin ini pemandangan yang sayang dilewatkan. Karena tak hanya SPG rokok saja yang berpenampilan menarik, cantik, dan juga sedikit seksi. Tapi ternyata ada juga di Jogja T-Shirt. Mbak-mbak pramuniaga disana terlihat cantik dengan seragam coklat beraksen batik dan dengan bawahan kain batik yang dililit menyerupai rok pendek. Cantik dan menarik, namun tetap sopan dan terlihat anggun. Aduhaiiii lah pokoknyaa.. Haha. Eh wait, ini mbaknya kenapa nangkringnya di depan gerobak angkringan ya? Jualan apa sih ini sebenernya? Salah masuk toko kah diriku? Atau karena lapar sampai-sampai masuk toko kaos tapi liatnya angkringan. Etapi mana nasi kucing dan segala macem gorengannya? "Wogh! Ini sih kaos semua yang ada di gerobaknya." *clingak-clinguk.

Jumat, 15 Januari 2016

Mentari Pagi Pantai Boom Banyuwangi


 “Kapan mau kasih makan blog lu lagi, Let?” pertanyaan lucu dari salah satu temen, tapi sangat menyentilku. Ya, kalimatnya yang “kapan kasih makan blog lu” ini mengisyaratkan kalo aku sudah lama ga update blogku. *langsung ngintip postingan terakhir di bulan Agustus tahun lalu. Ebusetttt.. 5 bulan cuiyy!! Lamaa jugak ternyata. Haha. Hmm.. Sebenernya bukan aku vacum nulis sih, nulis mah tetep walaupun asal nulis juga (iseng corat-coret doang). Tapi emang selalu berakhir di draft aja. Beberapa bulan terakhir ini aku memang sedang malas untuk posting dan update blogku. Karena beberapa alasan tentunya. Klise! Hahaha. Padahal diwaktu-waktu itu aku banyak “jalan”. Beberapa trip dadakan dan non sistematis aku lakukan beberapa bulan terakhir itu. Tapi dasar males, mung ngetrap-ngetrip wae ra gelem nulise. Penyakit!
Oke, yang mana dulu nih yang mau diceritain? *kemudian ngorek-ngorek draftku lagi dan harus meres otak buat inget-inget sisa trip kemaren. Sisaaaa... Lu kate remahan roti? Hahaha. Banyuwangi! Mungkin pilihan bijaksana mulai update blog lagi. Yeah, tulisan pertama di tahun 2016. Ya, teringat kisah salah satu pagiku di Banyuwangi yang biasa aja sebenernya, hanya karena perjalananku kali ini sendirian dan akhirnya diasuh oleh Andri selama disana.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Iseng Berujung Seneng Tambah Ilmu di Pameran Apresiasi Kreativitas di GOR Jetayu Pekalongan


Keisengan saya yang tak sengaja mampir ke Pameran Lukisan Djoko Simbardjo di GOR Jetayu Pekalongan ternyata membuahkan hikmah yang menyenangkan buat saya. Buat teman-teman saya juga sepertinya. Ya, hari ini (6/8/2015) adalah hari pertama pembukaan event pameran lukisan disana. Sebelumnya saya sudah melihat promo event tersebut di baliho-baliho yang terpasang di jalan raya yang saya lewati. Teman saya yang bekerja di TV Batik Pekalongan-pun menginformasikan hal yang sama.

"Apresiasi Kreativitas" Pameran Lukisan Karya Djoko Simbardjo

Rabu, 05 Agustus 2015

Kodingareng Keke Island, Perfectoooooo!!!!

Gegara baca blognya om cumilebay.com tentang pulau tak berpenghuni, Kodingareng Keke. Saya berasa bernostalgia lagi dengan pengalaman trip kesana dua tahun lalu. Berawal dari ajakan kawan disana yang ngajakin mantai dan nyelow di pulau, akhirnya saya memutuskan ikut serta kesana. Padahal tadinya saya mau naik ke gunung Bawakaraeng bersama teman yang lain. Racun main air di pulau tak berpenghuni ternyata lebih dahsyat dari racun ngopi di ketinggian.
Horaaaaaiii!!! Bergaya bango terbang di jembatan dermaga. Feel freeeeeeee!!! :p


Selasa, 30 Juni 2015

Santai gelantungan di Air Terjun Jumog

"Let, tekan Let. Melek. Turu wae." Rasanya ada yang menepuk pipi saya, dan sayup-sayup terdengar suara keras Nyonyo membangunkan saya. Benar saja, begitu saya melek ternyata muka Nyonyo sudah di depan muka saya, dan grrrrrr... Semua menertawai saya. "Ayok bangun Mbak, seger lho disini." Suara Raisa semakin mengembalikan kesadaran saya dari tidur yang hanya sekejap itu. Kaget sekaligus malu waktu melek melihat mereka pada merhatiin saya sambil tertawa. Ya, ternyata sepanjang perjalanan dari pusat kota Solo tadi saya pulas tertidur. Sejak masuk mobil, kepala saya memang sedikit pusing. Memasuki jalanan berkelok Kabupaten Karanganyar, malah semakin oleng rasanya. Daripada "hoek" alias mabok di dalam mobil, mending saya merem. Eh, malah jadi kebablasan. Nyesel juga sih nggak sempet melihat jalanan menuju ke tempat ini.

Rabu, 24 Juni 2015

Belajar Bekpeker

Ini adalah perjalanan pertama saya dengan cara yang kata orang dibilang backpacker. Perjalanan pertama pula dalam pelarian saya dari sakit. Hampir dua bulan dirawat di rumah sakit, membuat badan dan pikiran saya terkungkung pada sakit yang saya rasakan. Dengan niat dan sedikit tekad, akhirnya tiga hari setelah keluar dari rumah sakit saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Bali. Untuk berlibur dan sedikit meregangkan otot-otot badan saya tentunya.

Minggu, 29 Maret 2015

Pabrik Air Mineral tertua di negeri ini ada di Semarang?

9 tahun numpang hidup di Semarang sepertinya masih memalukan buat saya karena ternyata masih banyak yang belum saya tahu tentang sejarah kota ini. Khususnya untuk informasi sejarah Kota Lama Semarang. Padahal udah ga kehitung banget sudah berapa kali saya mengunjungi Kawasan Kota Lama. Dari yang sekedar lewat, ataupun memang mengantar saudara ataupun kawan dari luar kota yang kebetulan sedang berwisata di kota Semarang. Seperti tiga bulan lalu saya pernah dimintai tolong teman saya untuk meng-guide-in tamu teman saya dari Dispenda Kota Bekasi. Secara saya bukan guide, saya masih bingung harus menceritakan apa tentang Kota Semarang. Padahal kalo boleh dibilang saya suka jalan, tapi di Semarang sendiri.. Emm... Rada cupu sepertinya saya ini. Yang saya tau dan biasa orang tau tentang Kota Lama mungkin hanya Gereja Blendhug dan bangunan tua peninggalan Belanda. Tapi jika mau ditelusuri lagi, masih banyak sejarah Kota Semarang yang ada di Kota Lama ini yang mungkin sedikit terlupakan oleh masyarakat pada umumnya.
Nama Paberik Hygeia masih utuh hingga sekarang

Pelataran Pabrik Hygeia sekarang dipenuhi penjual Ikan Hias di area Pasar Johar
Bukti nyata bahwa Kota Semarang ini merupakan salah satu kota sentral yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pemerintahan Belanda, khsusnya dalam bidang perdagangannya. Salah satunya adalah bukti jika di Semaranglah pabrik air mineral yang pertama kali ada di Nusantara. Inget ya, Nusantara. Bukan Indonesia. Kebayang dong, dari nama "nusantara" sendiri udah bisa dikira-kira seberapa tua umurnya. Yup! Nusantara adalah nama gugusan kepulauan tanah air ini pada jaman Majapahit, jauh sebelum berubah menjadi nama NKRI atau Indonesia. Dan jauh sebelum Tirto Utomo mendirikan Pabrik Air Mineral AQUA. Jadi jika AQUA adalah perusahaan air mineral yang pertama kali di Indonesia, maka sesepuh dari AQUA adalah HYGEIA. PABERIK HYHEIA di dirikan oleh seorang Belanda bernama Dr. H.F. Tillema pada tahun 1901. Pabrik itu ada di Semarang. Lebih tepatnya masih di dalam kawasan Kota Lama juga. Pada jamannya, pabrik air mineral HYGEIA sukses menjual 500.000 botol air mineral. Setelah Mr. Tillema berkeluarga, istrinya ikut bergabung dalam perusahaannya. Mereka mengembangkan HYGEIA sebagai air mineral botol untuk pertama kalinya.
Namun setelah tutup, sekarang PABRIEK HYGEIA hanya tinggal bangunan tua yang tak terurus. Pabrik yang terletak di dalam kawasan Pasar Johar ini sekarang lebih dikenal dengan pasar ikan hias. Karena di sekeliling pabrik itu sudah banyak berderet penjual-penjual ikan hias yang berjualan disana. Dan sampai sekarangpun kurang banyak diketahui siapa pemilik bangunan tua itu. Karena terabaikan begitu saja, pabrik itupun juga terlupakan oleh masyarakat akan masa kejayaannya pada jaman Belanda dulu.

Amazing AMED #2

 Perjalanan Denpasar-Amed yang awalnya saya kira nggak terlalu jauh (saya hanya memakai celana pendek dan sendal jepit doang), ternyata lumayan bikin panas pantat dan gosong karena jalan menuju kesananya pas siang bolong. Hampir 4 jam di perjalanan dengan naik motor dari Denpasar memberi banyak cerita buat saya. Walaupun saya dibonceng, tetep aja terasa panas dan pegelnya. Apalagi motor yang saya pakai itu adalah motor dapat minjem dari temen yang sedang pulang kampung ke Jawa dan motornya itu cowo banget yang jok nya menurun dan nggak nyaman banget buat saya (motor thunder-red). Dengan diantar sama salah satu kawan disana, Kak Pras, kami bertiga menggunakan motor ke Amed. Sepanjang jalan setelah memasuki daerah Karangasem, saya sering sekali melihat orang berjualan ikan asap di pinggir jalan. Bahkan masih ada yang mengasapi ikannya di pinggiran jalan itu. Saya kira disana jauh dari pantai, karena sepanjang perjalanan sampai disana jalannya berkeok-kelok naik seperti mau ke puncak. Tapi juga heran, "Kok bisa ada ikan asap sih? Emang ada laut disini?" Ngomong dalam hati sambil liat kanan kiri, nggak ada laut sama sekali. Semakin gelap, semakin pegel-pegel badan karena lama di jalan, membuat saya mulai nggak fokus dengan penglihatan saya alias ngantuk. Sampai nggak sadar kalo motor udah berhenti di depan sebuah cafe. Dan ternyata, itu sudah sampai di rumah Bli Komang. Yeay!!

Finally, nyampe juga disini
Setelah salaman temu kangen dan kenalan dengan teman saya Nicky, Bli komang meminta saya untuk meletakkan tas saya di salah satu gazebo di rumahnya. Rasa heran campur takjub melintas di benak saya. "Jadi. Rumah Bli Komang itu menyatu dengan cafenya? Keren gini gazebo-gazebonya, apalagi dengan lighting yang terkesan romantis. Pas banget." kata saya dalam hati.
"Bli, ini nggak apa-apa kita simpen tas disini?" tetiba temen saya Nicky, bertanya sama Bli Komang. Wajar sih Nicky tanya gitu, secara gazebo-gazebo di sampingnya masih ada beberapa bule yang sedang nongkrong makan disitu. Bli komang cuma senyum aja nanggepin pertanyaan si Nicky, malah manggil Kak Pras yang sedari datang tadi langsung masuk ke dalam dapur rumah Bli Komang meninggalkan saya.

Senin, 09 Februari 2015

Semua orang punya impian
Dari impian, datang harapan..
Semua orang perlu impian
Dengan impian, ada kekuatan..
Impian menyinari hatimu bagai mentari, menerangi seluruh duniamu..
Impian membimbingmu ke jalan yang benar
Memberimu keberanian untuk melangkah maju.. 

-NotStupidToo-

Jumat, 16 Januari 2015

Selayang Pandang

Taraaa!!!!
Sebelum ngepoin blog ini, kata orang "tak kenal maka tak sayang". Nah, biar pada sayang sama gue, kenalan dulu yess sama makhluk semi astral empunya blog inih. Asik. Gue Alett Djudie, cewek single rada kece, langsing, bisa berenang, bisa naik gunung, tapi gak bisa nambal ban. Tapi yang pasti bisa jadi calon istri idaman para calon suami penghuni surga. Halah. Ya, nama yang sedikit absurd menurut temen-temen dan orang-orang yang baru pertama kali denger nama gue. Gue sendiri sebenernya juga rada gimana dengan nama ini, tapi yasudahlah ya gue suka kok dengan nama ini. Ada sih nama asli lengkap gue, tapi entah kenapa sepertinya nama panjang gue itu kurang menjual di dunia perjombloan. #lhoh! Hahaa. Alett, plesetan dari kata 'alit' dalam bahasa Jawa yang artinya 'kecil' sesuai dengan bodi gue yg kecil alias kurus dan sedikit imut :p *maksa. Tapi biar keliatan rada gahol aja makanya diplesetin jadi "alett". Dan nama Djudie di belakang nama Alett, kalo yang ini bukan nama gahol atau nama ngarang-ngarang gue, tapi ini real asli SNI kalo itu adalah nama belakang babeh gue. Cukup keren kan? Djudie, kayak nama orang-orang bule gitu katanya.
 Etapi kalian jangan salah ngira ya pas nge-search nama gue di pencarian fesbook. Gue sendiri baru ngeh kalo ternyata nama gue ada di list paling atas diantara nama-nama cewek bule. Awalnya sih rada terharu karena segitu kerennya kah nama gue? Tapi air mata gue ga jadi netes karena terharu, malahan jadi bete karena ternyata nama-nama cewek yang di list pencarian itu adalah cewek-cewek bokep! Omaigaaattt!!! *tutupmuka. Tengkyuh buat si Paii yang udah rela ngasih tau berita duka kalo nama gue itu nama bokep. *langsung nunduk. Gue bukan artis bokep. Heu.. Lemes.
Yeah.. Orang kenal dan manggil gue dengan nama itu, Alett. Dan yang baru pertama denger nama gue, mereka ngiranya kalo gue ini masih ada bau-bau bule gitu *songong, I capa? Siapa guee? *abaikan. Hahahaa. Tapi yang paling bikin gue geli banget tuh kalo gue dipanggil dengan sebutan "dede ayett", dan cuma satu orang yang mulai manggil dengan sebutan itu. Sapa lagi kalo bukan si jomblo senior Pakle alias Leo Chandra wong Jambi punya. Bukan dari panggilannya yang cadel sok imut-imut gitu sih, tapi yang bikin gak kuat tuh ngeliat ekspresi muka dan suara si Pakle pas manggil gue "dede ayett" gitu, asli gak ada duanya dah tuh muka sampe pegel nih gigi ngakak mulu. Hahaha. Dan parahnya lagi, banyak juga tuh beberapa temen gue yang ngikutin ajaran sesat si Pakle, gak tau kenapa lidah mereka mendadak ikutan cadel manggil gue "ayett, dede ayett, kak ayett" Huuft. *jitak Pakle* :p
Kenalan tentang siapa gue udah, asal-usul nama gue juga udah, itu aja udah cukup kan? Gak perlu gue ceritain juga tentang gimana sejarahnya gue bisa 'njebrol' ke dunia yang fana ini kan ya? Cukup mamih babeh gue sama Gusti Allah aja yang tau, kalian gak usah pada kepo loh! Ntar kalo gue critain, bisa-bisa ngalahin sinetron yang tiap hari nongol ditipi itu tuh. Iye, sinetron sejuta episode "Tukang Bubur Naik Becak".
Langsung aje, sedikit deskripsi tentang blog gue inih. Eemm.. Gimana yaa? Ini adalah blog ke-3 yang pernah gue bikin, dan tulisan ke-3 pula dalam sejarah per-ngeblog-an gue. Yupp! Tiap bikin blog, gue cuma 1x aja ngeposting tulisan di tiap blog gue. Itu juga posting tulisan perkenalan kaya gini. Harap maklum aja ya, otak gue terlalu kreatif buat nulis ini-itu tapi berakhir sebagai draft aja, atau kalo gak ya mentok-mentoknya nyungsep di recycle bin dan kalo pas gue lagi inget, gue korek-korek lagi tuh "tong sampah" yang ada di laptop gue. *syedihh. Dan walaupun isi tulisannya sama tentang "perkenalan", tapi gue masih sering kena amnesia apa yang mau gue tulis sebagai perkenalan gue disini. Intinya sih cuma satu, jangan pernah seriusin apapun isi tulisan yang ada di blog ini. Sebelum kalian terserang kram otak stadium sembilan yang nantinya dikhawatirkan bisa menyebabkan mati mendadak dengan kelonjotan.*lebey. Lebih tepatnya gue nulis blog ini ketika asupan kadar gila di dalam otak seperempat gue ini mulai bekerja, atau malahan pas gue pengen nyampah karena kadar kegilaan di dalam otak gue mulai kepenuhan, sayang daripada mluber mubadzir mending gue tumpahin aja semua 'luberan' itu dimarih. Mungkin setelah kalian baca-baca tulisan dimarih, tingkat ke-stres-an kalian bakal bertambah 2,5 % dari keseluruhan isi otak kalian. Dan jika itu terjadi, resiko ditanggung penumpang sendiri ya alias gue gak kasih garansi untuk meningkatnya kadar kejiwaan kalian. Haha.
Terakhir, gue mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat, atau kejadian perkara, berati itu bukan fiktif belaka alias itu nyata settingan Tuhan yang ditakdirkan untuk gue alami dalam hidup gue yang penuh drama inih. Tsaaahhh :) Dan jikalau gaya atau tata bahasa gue di blog ini kurang berkenan di hati sanubari para pembaca sekalian, dimohon dengan sangat untuk dimaklumi aja ya. Bukan maksud gue buat sok-sokAn ngomong niruin gaya anak gahol ibukota pake "elo-gue"an, tapi karena gue habis nonton Mandra di pilem Si Doel Anak Betawi. Haha. Nggak ding, tapi sesekali biar santai selow tapi ga melow aja pas gue curhat dimarih dan sukur-sukur buat yang baca juga nanggepinnya gak terlalu serius. Gue mah tetep tak lupa darimana gue berasal, sebuah kampung di satu kabupaten kecil di daerah pantura, yang hampir se-RT warganya adalah keluarga besar gue semua (fyi: mamih babeh gue rumahnya hadap-hadapan). #nahloh. Mungkin bakal sering juga gue pake kata sapaan "aku-kamu-kau", jika begitu berati itu tandanya gue lagi labil. Oke, abaikan.
Pokoknya, harapan buat pembaca sekalian setelah membaca celotehan dan coretan gue ini, kalian tetep kuat ya imannya, tetep sehat, tetep stabil kejiwaannya, dan tetep mrenges pokoknya. Amin.
Sekian. #SalamKetjupBasah :)
Piss loph en gahool aje yee baca-baca dimarih.. Asik ;)


*Semarang, Kamar tanpa AC no.9 



Amazing AMED #1

"Snorkling cuma 5 meter dari bibir pantai? Ah cius? Masa? Miapah?" Begitulah respon orang ketika saya bilang bisa snorkling dengan pemandangan bawah laut yang aduhai hanya 5 meter dari bibir pantai. Penasaran? Etapi tunggu deh, pernah ga sih kamu kepikiran atau justru pernah mencoba hal yang sama seperti itu? Pernah? Dimana itu? Saya juga awalnya sedikit nggak percaya ketika dikasih tau oleh salah seorang teman saya. Dan ternyata, WOW! Beneran loh! Yeah, hanya di Amedl ah saya pertama kali merasakan itu. Memang sebelumnya sih saya dulu masih jarang bersnokling gitu, pernah beberapa kali itu juga waktu di Karimun Jawa. Disana juga kalo mau snorkling harus naik kapal ke tengah laut dulu untuk ngedapetin spot yang bagus buat snorking, pokoknya spot yang paling kece alam bawah lautnya. Terumbu karang yang masih bagus dan alami, juga ikan-ikan berwarna-warni yang banyak banget bersliweran disana. Coba bayangin deh, siapa yang ga mau coba ngeliat yang begituan di tengah laut? Ah, sudah biasa itu. Tapi bayangin gimana serunya kalo kita bisa ngeliat itu semua hanya dengan jarak kurang dari 10 meter dari bibir pantai. Mau? Mau aja? Apa mau banget??
Nggak kesengajaan saya ke Bali, ternyata bisa membawa saya ke 'dunia lain' dari Pulau Bali. Bali yang dikenal karena crowdednya alias hingar bingar hedon party bule-bule, crowded di club, pub, juga di pantainya, tapi kali ini sangat jauh berbeda suasananya. Amed, merupakan nama satu daerah di Bali timur yang dapat ditempuh dengan jarak kurang lebih 3 jam dari pusat kota Denpasar ini menyuguhkan 'sisi lain' dari Bali. Sebuah daerah yang tenang, asri, masih banyak sawah, dan suasana pedesaannya masih terasa kental. Salah satu daerah di Bali yang pantainya berpasir hitam pekat, dan jalan menuju kesana yang berkelok-kelok seperti menuju ke dataran tinggi, tapi di kanan-kirinya kadang terlihat jajaran pantai-pantai. Dan udara disanapun masih sejuk karena belum terlalu banyak tercemar oleh polusi asap kendaraan dan tidak terlalu panas walaupun dekat sekali dengan pantai.
Nggak ada bule disana? Salah besar. Justru wisatawan yang mengunjungi daerah ini hampir 90% nya adalah wisatawan mancanegara. Jarang sekali wisatawan lokal yang kesana. Padahal di Amed banyak terdapat spot-spot diving yang sangat indah. Di Amed banyak sekali bule, namun mungkin bule-bule yang disana memang wisatawan yang sedang mencari suasana Bali yang 'lain'. Berbulan madu, ataupun berwisata alam yang jauh dari kebisingan dan hingar bingar Bali. Namanya juga bule, pasti nggak bisa lepas dari bir. Tapi bule-bule disana tertib, jarang sekali terjadi keributan disana.
Beruntung sekali rasanya saya bisa kesana. Dengan niat awal menemani teman saya yang belum pernah ke Bali dan ingin sekali kesana, lalu di tengah jalan teringat akan salah satu teman saya yang tinggal di Amed. Hasrat menemani temen saya keliling tempat wisata di Balipun memudar. Baru dua objek wisata yang telah kami kunjungi, yaitu Pandawa Beach dan Uluwatu, menuju destinasi ketiga pikiran saya berbalik untuk mengajaknya ke Amed mengunjungi teman saya itu. Teman yang sudah seperti kakak saya sendiri sih lebih tepatnya, karena saya dengan beliau sering sharing-sharing tentang banyak hal. Tapi seringnya sih yang diomongin ga jauh-jauh dari trip, backpacker, dan destinasi. Dan ketika beliau tau saya sedang di Bali (yaiyalah tau, secara temen saya udah woro-woro duluan kalo saya sedang otewe ke Bali. Jadi aja ke-gap), beliau meminta saya untuk mampir ke rumahnya di Amed. Namanya Bli Komang Bajing. Mungkin jika sesama pejalan, nggak akan asing dengan nama itu. Karena emang beliau juga seorang pejalan. Sudah banyak kawan-kawan pejalan yang pernah singgah di rumahnya. Dan waktu itu, mungkin giliran saya untuk mengunjunginya. Haha. Manfaatin moment banget mumpung lagi di Bali. Padahal itu juga karena diajakin temen bisa kesananya. Hehe
Gimana kelanjutan ceritanya? Wait ya, nyelonjorin jari dulu biar nggak keriting keseringan ngetik sambil ngumpulin mood lagi buat nglanjutin ceritanya.. Wokeeh :p

Kopi pagi ini

Ketika bubuk kopi mampu mengotori isi kepala dengan segala imajinasi
Ketika aroma kopi mampu menghanyutkan isi hati yang bisa saja tersakiti
Ketika pahit asamnya kopi mampu menggetarkan raga untuk bergerak tanpa henti
Ketika seduhan kopi mampu menenggelamkan sepi dan sendiri
Ketika secangkir kopi mampu menjawab segala antologi jejak diri
Dan ketika ampas kopi mampu menertawakan ironi hidup yang tlah dijalani
Kau, nikmatilah harimu seperti secangkir kopi pagi ini
Dunia ini hanya tempat untuk mampir ngopi
Ya, begitulah..


*Semarang, Jumat pagi yang mendung :)

Selasa, 30 Desember 2014

Seduhan di Persimpangan Liku



Hujan selesai mengguyur kota Semarang dan meninggalkan genangan-genangan di samping kiri dan kanan jalanan. Desember menyisakan beberapa hari saja menuju pergantian tahun. Selesaikan tahun dengan berbagai banyak cerita dan rasa. Tentang perjumpaan dan salam sampai jumpa lagi. Lembar berlembar menjadi sebuah antologi refleksi perjalanan sebagai manusia dan perjalanannya. Perjalananku.

Perjalanan yang selalu dimulai dengan satu langkah, yang kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah selanjutnya. Setiap langkah yang selalu memiliki cerita. Setiap langkah yang selalu berkesan. Setiap langkah yang selalu tertinggal di sebuah tempat. Langkah-langkah ini akan selalu terpatri dalam sebuah kenangan. 

Kembali, malam ini yang disebut kenangan terukir di ruang yang tak seberapa luas ini. Tempat pengab yang makin sesak oleh hawa manusia tak berotak manusia. Bagaimana tidak? Tak peduli kesendirian yang diderita, tak peduli beban yang ada, dan tak peduli rasa yang merasuk menghambat jiwa, semua tertawa. Di kamar kosan tanpa AC ini, begitu mereka menyebutnya dan ditemani seduhan aneka kopi daerah, aku kamu, dia, mereka, kita, hanya satu kata, menggila. Ruang 3x3m yang menyisakan tak seberapa luas tak lagi leluasa untuk menempatkan diri dengan posisi sempurna. Nyaman, mungkin itu yang dirasakan. Teman menjadi lawan, dan lawan kembali merangkul sebagai kawan ketika kegilaan tak terelakkan. Lupa, meluapkan segala rasa di luar sana yang mungkin menyesakkan. Ah kalian, jangan pernah bosan lanjutkan kegilaan. Seperti malam ini, lima manusia yang mengesampingkan gender dengan enggan menyebut satu makhluk dengan sebutan "wanita" ini sepertinya tak lagi peduli akan apa yang terjadi di luar sana. Hanya disini, apapun bisa terjadi atas nama kegilaan. Ya, semua bisa terjadi. Kotor? Itu pasti. Berantakan? Hanya jika ada kalian disini. Kesal? Sudah biasa. Tak wajar rasanya jika ruangan ini tetap sama ketika penuh sesak seperti ini.

Nulis Pancen Boros Kopi *kandhani og*

Gila, disaat semua mimpi menjauh dariku, aku bisa tertawa disini, aku lelah, tapi aku lepas. Ketika aku bersama di ruang sempit ini, aku lupa akan keadaan diluar sana, entah rasa itu muncul begitu saja. Aku teringat kembali akan perjuangan hidupku yang membisu, ketika aku berjalan sendiri tanpa kenangan, sudah lupakan sejenak drama kehidupan ini. Liku akan terus ada di persimpangan, aku akan terus maju melangkah dari lorong waktu yang ada, entah apa yang akan menyongsongku di depan, siap atau tak siap aku akan tetap melangkah, mengarungi apa yang ada didepanku.

Kopi yang aku seduh ternyata mampu menemaniku menggumamkan beberapa lagu. Bahkan akupun meneriakkan beberapa reff lagu yang mau tidak mau aku terhanyut dalam setiap makna yang semestinya itu hanyalah penggalan biasa saja. Malam dimana kali ini aku menanggalkan rutinitas akan mengingat pekerjaan sedari pagi hingga sore ini. Ataupun resah akan bagaimana mempersiapkan pekerjaan esok harinya. Malam ini aku hanya ingin bermain melankoli. Bermelankoli dengan cerita. Merenung bersama yang ada di kamar ini. Semoga penat ini benar-benar menguap dan pergi jauh ribuan kilometer dari sini. Jutaan cahaya dari ruangan ini.

Pekatnya kopi Solong dari Aceh ini tak hanya memabukkan, namun sukses menghanyutkan segala rasa yang ada. Lalu, semua terasa lupa akan siapa dirinya. Entah sampai kapan akan selalu seperti ini. Aku yakin semua kan ada masanya. Masa dimana semua kan pergi, masa dimana semua kan menjauh. Namun satu asa yang ingin selalu ada, kenangan. Kenangan yang tak mungkin dan tak ingin terhapus dalam benak manusia yang tlah singgah. Tawa, teriak, sedih, juga tangis pernah terjadi disini. Tuhan, jangan pernah hapus rasa dan kenangan yang pernah ada. Tak pernah tahu kapan dan akankah kembali terulang. Selama deretan toples penuh akan bubuk menghanyutkan, selama itu pula cerita akan tercipta. Semoga wangi aroma kopi selalu ada dan mengelilingi tempat para durjana ini melepas rasa. Sungguh tak kuasa membayangkan ketika tiba waktunya kelak. Waktu dimana hanya kenangan yang tersisa. Tak lagi ramai, tak lagi sesak, dan tak ada aroma wangi kopi yang membaur dengan asap tembakau yang dihembuskan. Sedih, itu pasti. Satu liku yang kan terasa seperti teriris sembilu. Namun apa dayaku ketika semuanya beku? Ngilu yang tak mungkin palsu. Ingin ku teriakkan,“Hei kalian! Tetaplah disini. Jangan biarkan kisah ini berakhir begitu saja. Tak inginkah kalian terus seperti ini? Menyeduh kopi walau hanya dengan air panas dispenser, cemilan yang tak seberapa banyak yang ada di dalam rak, menyegarkan tubuh penuh peluh kalian walau hanya dari seember air pancuran, merebahkan kepala kalian walau sekejap dalam keras dan dinginnya lantai dan dimana ada tempat yang tak seberapa luas untuk meluruskan tubuh kalian, lalu berceloteh bebas tentang hal bodoh sekalipun tanpa ada yang membatasi apapun yang keluar dari mulut kalian?" Ya, kuyakin liku yang tak akan pernah beku sekalipun oleh waktu.

Jelajahi Nusantara Melalui Kopinya

Waktu terus berlari, berganti, dan menari, seperti aku disini, di malam yang penuh arti, dimana alur cerita tak pernah ada tapi kita tetap bersama, dimana nafas menghela dan kita berkelana menuju alam nyata yang tak akan pernah terulang. Aku dan kalian beda, tapi aku dan kalian bisa melebur merebah bersama, meski hanya dengan seduhan kopi dari aroma khas pulau – pulau Indonesia. Kalian adalah asa, dimana aku berharap asa ini tak menjadi basa, basa yang tak mungkin ada rasa. Kita disini bercerita, dan kelak kita akan mengulas kembali. Dengan ditemani secangkir kopi di tangan tentunya. Semuanya.




Kamar pengab 3x3m, 29 Desember 2014 
*AlimAlettAdnanVaiCuss

Sabtu, 13 Desember 2014

Belum Sore

Barangkali pukul tiga sore belum dapat untuk dipanggil senja. Senja yang berarti langit dan awan semburat berwarna jingga dengan goresan hitam. Meninabobokan matahari untuk sejenak rehat, walaupun tahu matahari tak pernah lelah untuk menjalani pekerjaannya. 

Barangkali pukul tiga sore matahari memberikan suhu yang paling nyaman. Melayang kokoh di serambi langit, menebarkan senyumnya yang terhangat. Hingga pada saatnya malam datang, dia mulai muram. Malas dia menuju ketiak cakrawala untuk mengakhiri hari ini. Meredup perlahan, terhalang awan dan beberapa bayangan burung yang pulang kembali ke peraduan. Semua nampak hitam. Matahari nampak semakin angkuh oleh takdirnya.
Barangkali pukul tiga sore adalah waktu dimana matahari sangat menyilaukan jalan. Mengatakan bahwa dia masih mampu menerangi. Kita manusia jangan dulu mempersilakan lampu kota, kata matahari mungkin. Setiap kepercayaan membutuhkan selang tempo untuk dituai.
Barangkali pukul tiga sore adalah aku diusia ini. Usia menuju senja bagi seorang perempuan yang menikmati kesendirian. Sosok perempuan yang selalu dininabobokan untuk mengalah walaupun aku belum mau menyerah. perempuan yang akan selalu angkuh pada takdir yang tidak mesti harus dilayani dengan angkat tangan. Perempuan yang masih mampu membuktikan diri. Aku perempuan yang tidak mau seperti matahari saja.
Kosan tanpa AC, 13 Desember 2014